Monday, February 19, 2018

Satu yang Aku Hindari Sejauh Allah Mengizinkan


Dalam garis kehidupan yang sedang kita jalani ini hal yang sama pasti dialami oleh setiap umatNya yaitu lahir, kanak-kanak, menjadi dewasa, tua, kemudian datang saat yang tidak mampu siapa pun menghindar darinya, yaitu kembali menghadapNya --  mati. Sebuah kematian yang setiap orang sudah memiliki jadwal dari Allah Sang Maha Pencipta. Namun tak seorang pun tahu kapan saat-saat itu akan menjemput kita. Yang kita tahu sepersekian detik maut selalu mengintai.
Sumber Gambar: kompasiana.com

Kewaspadaan untuk menjaga kesehatan yang dianugerahkan olehNya menunjukkan rasa syukur kita ke Hadirat Illahi akan segala tingkat kesehatan dan rezeki yang diperuntukkan bagi kita -- akan semua kesempatan menghirup udara segarnya. Aamiin. -- dan hanya akan ada satu yang aku hindari sejauh Allah mengizinkan yaitu menjalani tindakan operasi.


Tahun 1999

Sudah dua kali aku mengalami gangguan kesehatan. Dokter dari dua rumah sakit menyarankan tindakan operasi untuk melakukan pemasangan pen demi kesembuhanku. Namun aku tidak mau. Lebih baik aku berobat jalan saja. Apa sebenarnya penyakitku itu? Walaupun ini sebuah cerita lama, tetapi aku berharap ini akan memberikan manfaat kepada para pembaca tentang baiknya akan keyakinan diri tentang apa yang kita alami melalui adanya kebesaran Mukjizat Allah Sang Maha Pencipta. Yakin Allah akan menyembuhkan, maka kesembuhan pun akan diberikan olehNya. Aamiin.

Pada tahun 1999 aku tinggal bersama anakku yang bungsu di sebuah rumah sederhana di wilayah Jalan Bangka, yang tak berhalaman baik di depan ataupun di belakang rumah. Memiliki ruang terbuka di lantai atas untuk aktivitas menjemur pakaian.

Ketika hujan turun aku bergegas mengangkat semua pakaian yang dijemur, aku masukkan ke dalam sebuah ember plastik yang lumayan besar. Karena untuk mengangkatnya aku tak mampu, maka ember yang sarat dengan pakaian setengah basah dan berat itu aku geser sambil aku turun perlahan menuruni anak tangga dengan menghadap ke atas.

Untung tak dapat diraih malang pun tak dapat ditolak, apa daya ember itu meluncur mendorong tubuhku tanpa bisa aku tahan. Aku terjatuh dari ketinggian empat anak tangga yang masih harus aku turuni sebelum kaki menjejak lantai. (maklum rumah sederhana tangga tak memiliki kedua sisi anak tangga sebagai penghalang untuk keamanan). Gedebuuuk…akupun jatuh tertelentang….Kreeek... seakan aku mendengar bunyi sesuatu di bagian belakang tubuhku.

Hari masih pagi…

Teriakanku membangunkan anak dan menantuku, begitu juga cucuku. Mereka menghambur ke tempatku terbaring.  Anakku bontot tergopoh menghampiriku dengan menggendong si kecil. Lagi-lagi aku berteriak ketika mereka akan mengangkatku. Mungkin tulang belakangku retak. Mereka berusaha mencari sebilah papan yang lebar. Tak perlu waktu lama. Para tetangga berdatangan. Mereka membongkar sebuah meja tua dan mendongkrak bagian atas. Sebilah papan pun berhasil didapat -- memasukkannya di bawah tubuhku setelah dilapisi selembar kain panjang agar mudah mereka mengangkat dan menggotongku. Ya, ampun. Sakitnya. Aku terus merintih setiap ada goncangan dalam mobil yang membawaku ke Rumah Sakit.

Aku dibawa ke Rumah Sakit X terdekat. Kesimpulan dokter bedah tulang, aku harus sgera dioperasi untuk memasang pen. Aku menolak dan mohon untuk diizinkan memilih second opinion. Minta dipindahkan ke Rumah Sakit lain.  Di Rumah Sakit XX inipun kesimpulan dokter bedah sama. Aku harus dioperasi. Aku menolak lagi dan minta dibawa pulang.

Alhasil sebelum pulang -- dengan rekomendasi seorang teman yang sangat baik aku dibawa ke RS Bedah Tulang di wilayah Siaga Raya.  Alhamdulillah, Professor Bedah Tulang di rumah sakit ini dengan seksama memeriksaku. Kesimpulannya: Aku tak perlu dioperasi, tapi aku diharuskan memakai penyangga tubuh. Dengan sigap Profesor Bedah Tulang memanggil seorang perawat untuk mengukur tubuhku agar alat yang dibutuhkan dibuatkan sesuai ukuran. Sementara itu aku diberi tablet penahan sakit.
Aku dengan pelana penyangga tubuhku. (dokpri)
Alat untuk penyangga tubuhku, yang aku sebut Pelana Kuda, hehe...di bagian dada dan di perut 
 bawah pusar,  masing-masing dipasang lempeng kayu halus yang dihubungkan
 dengan kerangka besi di bagian kiri kanan tubuh dengan ikatan tali-tali
 kulit (seperti ransel, hehe...) untuk menguatkan posisi alat itu di tubuhku.


Singkat cerita aku dirawat selama hampir tiga bulan di rumah sakit itu. Untungnya walaupun aku sudah pensiun dari sebuah organisasi internasional, tapi masih aktif bekerja di sebuah perusahaan yang berstandar internasional pula. Biaya pengobatan dan lain-lain pun ditanggung perusahaan. Alhamdulillah.

Oops...maaf jadi terpotong oleh curhat.

Alat yang aku pakai hanya boleh dilepas ketika aku tidur saja. Aku tidak dibolehkan memiringkan badan  ke kiri atau ke kanan, harus berbaring lurus. Aku patuhi semua larangan Profesor Bedah Tulang dan tim suster yang merawatku. Karena keramahan para suster aku merasa nyaman -- seperti di rumah sendiri. Tiga bulan berlalu aku dibolehkan pulang dengan catatan harus menjaga dan mengendalikan pergerakan tubuhku.

Di rumah -- selama dua tahun lebih aku memakai “Pelana” hehe…aku menyebutnya seperti itu karena rasanya aku seperti kuda berpelana. Perlahan tapi pasti, aku pun dinyatakan sudah boleh melepas alat tersebut. Selama tahun pertama alat itu tetap aku pakai -- pada tahun kedua dibolehkan memakai korset khusus untuk tulang yang retak. 

Kini aku merasa bersyukur terhindar dari tindakan operasi.


Tahun 2009

Sembilan tahun yang lalu aku mengalami ketidak-nyamanan dalam tubuhku, seringkali merasakan adanya rasa nyeri di perut bagian bawah. Tanpa memberitahukan kepada anak-anakku aku memeriksakan diri ke sebuah Rumah Sakit Swasta bagian Kandungan. Mungkin andaikan aku belum pernah membaca tentang penyakit ini,  aku akan terkejut seperti mendengar suara halilintar, namun aku hanya mengurut dada dan prihatin.

Dokter mengatakan dari hasil USG (Ultrasonography) aku memiliki kista di luar kandungan. Aku bisa melihatnya dari layar monitor dan dengan jelas aku melihat ada serangkaian bulatan-bulatan kecil dalam perutku. Aku diminta oleh dokter untuk memeriksakan diri sekitar 3 atau 4 bulan lagi -- bila mengecil akan dibiarkan, tetapi apabila membesar dengan ukuran yang menurut dokter harus diangkat, maka pengangkatan melalui operasi pun harus dilakukan. Operasi? Oh, tidaaak...

Aku membaca melalui klik google tentang apa dan bagaimana penyakit ini. Kista bukanlah semacam kanker, walaupun kemungkinan besar bisa juga berubah menjadi penyakit kanker bahkan kanker ganas. Aku tidak khawatir dan tidak terlalu memikirkannya. Seandainya pun aku harus pergi menghadapNya karena penyakit ini, aku sudah pasrah, karena usahaku sudah maksimal dengan menjadi akrab dengan obat-obatan herbal.

Selama itu aku baru satu kali kontrol pada tahun 2016 dan ternyata keadaan kista ini masih sama. Jadi, selama kista ini tidak mengganggu aktivitasku, aku akan berusaha melupakan keberadaannya dalam perutku. Segala macam ramuan yang aku pelajari dari Google aku terapkan dalam keseharianku. Tanaman sirih merahku yang subur pun menjadi salah satu sasaran pemetikan berulang kali untuk aku rebus dan aku minum airnya. Pahitnya bukan alang kepalang, namun kesembuhan yang harus aku pikirkan. Paling tidak aku tidak merasakan ada gangguan dalam gerakku sehari-hari. Aku tidak pernah merasakan sakit atau nyeri, maka bagiku, aku sehat. Aku harus melupakan kistaku.


Aku juga tak mau melampirkan foto USG di sini karena aku sedang melupakan kista ini.


Aku hanya berdo'a semoga kista ini tidak membesar. Usahaku minum obat herbal baik yang aku beli atau pun yang aku ramu sendiri semakin rajin. Yang penting selama aku masih bisa menghindarkan diri dari operasi, selama itu pula aku rasanya tidak ikhlas tubuhku yang utuh pemberian Allah ini dibedah untuk mengangkat bulir-bulir yang menghuni tubuhku agar aku sembuh. Kista belum tentu sembuh total setelah operasi itu, tapi tubuhku telah dikoyak pisau operasi.

Aku lebih suka berdo'a dan berpasrah diri kepada Allah Swt dengan meminum ramuan apa saja yang disarankan oleh teman atau kerabat daripada harus  berbaring di meja operasi menghadap langit-langit ruang operasi yang dihalangi oleh lampu-pampu pijar menyorot ke tubuhku sebelum aku terlelap oleh kekuatan obat bius yang disuntikkan ke tubuhku. Pastinya.

Ya, Allah, jangan biarkan aku mengalaminya.  Dan Allah hingga detik ini masih mengabulkan permohonanku. Tubuhku kuat, jiwaku sehat. Alhamdulillah.

Akupun semakin giat menanam di rumahku beberapa macam tanaman seperti Sirih Merah, Daun Binahong, Lidah Buaya, Sereh Merah – yang kesemuanya memiliki khasiat mengobati berbagai penyakit antara lain kista. Ditambah satu lagi yang terkini aku beli yaitu Teh Bawang Dayak.

Kehidupan berlanjut dengan hati tua penuh semangat. Aku meronta melawan kekhawatiranku tentang kista ini dan kerinduanku pada anak cucu dengan mengisi kesibukan yang sama sekali di luar dugaanku, bahwa pengisian kehidupan ini akan menjadikan diriku secara mental menjadi kuat. Aku menjadi super woman, begitu anak-anakku menyebutku, bila melihat ke mana-mana aku selalu sendiri.

Untuk melakukan kontrol penyakit yang satu ini aku berusaha menolak bila mereka akan mengantarkanku ke Rumah Sakit. Apa jadinya bila mereka tahu aku memiliki kista dalam perutku? Mereka pasti akan bingung dan khawatir sekali. Tentang biaya pengobatan tidaklah akan menjadi masalah bagi mereka. Namun mereka pasti akan melarangku untuk mengadakan kegiatan di sana sini seperti yang selama ini aku lakukan.

Jadi... selama Miss Kista ini tidak mengganggu kesehatan fisikku, aku akan tetap berpendapat Miss Kista telah mengecil bahkan hilang sama sekali. Namun bila pada saat sekarang ini sedang berkembang-biak menjadi besar, ia akan tetap aku siram dengan ramuan yang pahit sekalipun. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Allah pasti akan meridhoi usahaku sendiri untuk memerangi Miss Kista ini. Dan Allah Maha Mengetahui tentang Satu yang Aku Hindari Sejauh Allah Mengizinkan, yaitu menjalani operasi pengangkatan kista. Oh, no... Jangan sampai hal ini aku alami.