Jumat, 11 September 2015

Sawah Mengering Padi pun Merana

Puteri si Mbak-ku - tanpa hapenya foto2ku gak akan pernah ada.
Seperti yang pernah aku ceritakan pada postinganku terdahulu tentang perjalanan ke desa Cikijing, Kuningan, Majalengka  --  untuk menepati janji, (pada diri sendiri), aku akan memuat beberapa foto. Sawah Mengering Padi Pun Merana, memang telah melanda desa Cikijing, bahkan bukan hanya desa Cikijing, tapi hampir seluruh wilayah kepulauan menderita kekeringan.


Hati-hati, sayang, meniti galangan sawah.

Ibu Mantri Sawah, berjalan di galangan sawah...lagi inspeksi, hehehe... lho koq assistennya jalan duluan sih???

Tujuan postinganku ini sebagai catatan aku telah menginjakkan kaki di galangan sawah yang telah kurang lebih 66 (baca: enampuluhenam tahun) tidak pernah kurasakan nikmatnya desir angin yang menepis pipi dan mengurai rambutku. Kini hanya jilbabku saja yang berkibar-kibar ditiup angin. Syukur alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk berjalan dan menengok kiri kanan petak-petak sawah mengering padi pun merana 
Dengan cara inilah sayuran itu mendapat sedikit siraman agar tidak mati merana, air hanya diciprati air dari piring kaleng yang dipakai sebagai gayung. Ternyata sambil menyiram, sepupu si Mbak-ku ini memetik sayuran (kacang panjang, daun bawang, daun kacang panjang.) Begitulah sambutannya karena gembira kami datang.
Si Mbakku yang riang wlp sawah mengering, tapi dia bisa nengok kampung selain Lebaran, hehe...

Sayur mayur, tanaman daun bawang sulit untuk tumbuh dengan subur. Musim kemarau panjang menyebabkan petak-petak tanah sawah dan kebun menonjolkan pemandangan yang memprihatinkan --  retak-retak tanah tidak bisa ditanami dengan tanaman palawija.Walaupun hampir semua petani memiliki pompa penyedot air, mereka tidak bisa berbuat semaksimal mungkin untuk menyedotnya. Semangat kebersamaan, satu pompa dengan panjang pipa yang sekian puluh meter itu tidak bisa mereka gunakan seenaknya menyedot air dari sungai yang terlebih dahulu dibendung. Semangat kebersamaan dan saling pengertian menyadarkan mereka harus berbagi. dan harus secara bergiliran menyedot air sungai yang  airnya tidak sampai menggenangi bibir sungai. Namun mereka tetap mensyukurinya dan berbagi dengan ikhlas.
Ngobrol di Saung

Anakku si Bontotp Permataa Hati yang membelakangi kamera hape jadul, hehe...





Sawah Mengering Padi pun Merana


Pohon tomat banyak yang dimusnahkan karena tidak bisa diharapkan untuk tumbuh dan berbuah hingga ranum dan masak. Miris hatiku ketika melihat di sawah-sawah kering teronggok karung-karung berisi tomat dengan buah yang masih  mentah. Sengaja pohon tomat itu mereka musnahkan sebelum menjadi busuk. Kemudian aku masih melihat setengah karung tomat muda dan masih kecil-kecil siap untuk dibuang. Aku katakan "Jangan dibuang, sayang, kan."

Mereka mengatakan: "Hampir semua penduduk desa memiliki pohon tomat dan mengalami peristiwa yang sama, jadi untuk apa  disimpan-simpan. Kalau Ibu mau, silakan saja ambil dan bawa untuk oleh-oleh,"
Karung-karung berisi tomat yang akan dibuang, hiks, hiks...dan aku menerima tawarannya untuk membawanya sebagai oleh-oleh dari Desa Cikijing.  Semula bingung juga sih, untuk apa tomat sebanyak itu. Tapi seperti usulnya --  untuk oleh-oleh, jadi dengan gembira aku terima, aku hanya memilih yang setengah karung saja.

"Serius? tanyaku. Dia mengangguk dengan senyum. Tanpa persetujuan dariku, langsung diserahkannya  setengah karung berisi tomat muda kepada suami si Mbak.

"Sok, gera dipanggul, bawa yeuh jang oleh-oleh ti kampung! (ayo deh dipanggul, bawa untuk oleh-oleh dari kampung). Suami si Mbak-ku dengan santai memanggul setengah karung berisi tomat itu dan meninggalkan Saung. Santai banget, karena pemilik sawah dan kebun sayuran itu juga masih saudara sepupunya.
Dipanggullah setengah karung tomat muda yang masih segar.

Tapi, anakku, si Bontot Permata Hatiku, tidak tinggal diam. Ia bersegera membuka dompet dan menyerahkannya kepada si Mbak untuk diberikan kepada Pemilik tomat. Berlari-lari si Mbak menghampiri pemilik yang juga anehnya malah berlari menjauh dari si Mbak, tidak mau menerima uang tersebut. Tidak kalah galak, si Mbak-ku dengan berseloroh mengancam dan mengatakan: "Bos urang mah moal ka kampung deui yeuh, ari maneh teu narima pamerean nana. (Bos saya tidak akan ke kampung lagi kalo kamu gak mau nerima pemberiannya.) Alhasil, diterima juga dua lembar lima puluhan itu, dicium-cium dan dibawa ke keningnya, ditempelkan, dicium lagi, ditempelkan lagi. Pokoknya, caranya menunjukkan rasa terima kasih yang sangat menyentuh.
Hati-hati, Bunda...kata si Mbak-ku

Aku dan anakku melambaikan tangan dan kami pun meninggalkan area sawah dengan mengulum senyum bahagia melihat petani yang begitu berhati polos.

Maaf kalau mata pengunjung blog-ku ini jadi "lamur" karena liat poto-potonya yang bluuur.









6 komentar:

  1. kasihan ya bunda petani-petani kita.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya juga, tapi sama sekali tak terlihat wajah murung di wajah mereka. Mereka tetap aktif mengolah apa yang ada. Makasih ya sudah mampir ke blog bunda.

      Hapus
  2. bayangkan di daerah cikijing dan raja galuh yg subur saja kalau kemarau kering begitu apalagi daerah pantura ya bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, sampe rasanya gimanaaa gitu liat reta-retak tanah sawah karena kekeringanl Makasih kunjungan Tira Soekardi ke blog bunda.

      Hapus
  3. Ya Allah, segitu banyak dibuang Bunda? hemm, mudah2an kalo panen melimpah berikutnya sudah ada solusi buat mengatasi buar ga mubazir dibuang.

    BalasHapus