Rabu, 09 September 2015

Untuk Apa Kita Berbuat Kebaikan?

Sumber gb. thestraightway.info
Untuk Apa Kita Berbuat Kebaikan? Untuk menjawabnya, yuk, ikuti coretanku di bawah ini:

Kisah lama, tahun 2007 yang akan kutulis sekedar untuk mengingat betapa manisnya masa lalu. Jadi, sejatinya masa lalu itu tidak boleh dilupakan, tapi jadikanlah sebagai acuan untuk menyongsong masa depan dengan segala hal-hal buruk di masa lalu yang harus kita perbaiki. Setuju?



Bertolak dari pertemananku dengan seseorang, postingan ini pun jadi aku buat di pagi yang cerah ini. Temanku ini berpredikat di belakang namanya, Sarjana Ekonomi (S1), tapi kenapa dia koq jadi introvert begini sih? Itu pikiranku. Tapi dia pasti punya alasan kuat yang lain sehingga dia yang sudah menyandang S1, menarik diri dari pergaulan. Sungguh disayangkan. Sebagai teman apa yang bisa kulakukan untuknya? Tidak ada? Ah, bukan aku namanya kalau untuk hal yang like a piece of cake aja aku tidak melakukan apa-apa.



Seperti yang sudah aku utarakan di atas, bukan aku namanya andai tidak bisa berbuat apa-apa untuk seorang teman yang sedang terpuruk. Ya, betul, saat itu dia benar-benar sedang mengalami sebuah gonngan, baik dalam segi ekonomi, maupun keluarga. Nah, alhasil dia berhasil aku bujuk untuk menerima keadaan. Hidup tidak akan berubah kalau kita tidak merubahnya. Aku tawarkan kepadanya untuk berusaha bangkit dengan menjalankan sebuah bisnis kecil-kecil-an agar terusir kekisruhan dan kegalauan dari hatinya.

Deal! Dia bersedia mencoba melupakan kegalauannya dan menerima tawaranku. Modal kecil yang aku tawarkan ia terima penuh rasa bersyukur. Dengan catatan dia harus mencari client yang membutuhkan -- dalam hal ini, katakanlah, dia harus mencari order dari siapa saja yang membutuhkannya --  misalnya memberikan kredit barang-barang mulai dari alat-alat dapur, furniture, baju, alat elektronik, termasuk handphone. Ketika item yang terakhir ini banyak peminatnya, mulailah modal aku berikan dengan perjanjian masa tenggang waktu tidak lebih dari lima bulan, dan dengan persentase tidak boleh lebih dari sepuluh persen. Aku tahu, karena ini adalah aktivitas yang bisa dikategorikan sebagai usaha berjualan, maka keuntungan sepuluh persen tidak menyalahi aturan agama dan tidak digolongkan sebagai "riba" tetapi pure sebagai keuntungan. Aku percayakan semua kepadanya. Dia yang harus menjalankan usaha tersebut. Satu lagi persyaratan -- dia harus mencatat dan mengetahui alamat rumah setiap client.

Beberapa bulan aktivitas berjalan dengan lancar dan alhamdulillah tidak ada yang mengecewakan. Temanku terbantu, dia jadi aktif berusaha dan berpromosi. Kelihatan pancaran semangat di wajahnya. Aku ikut senang.
Sumber gbr. dakwatuna.com
Sampai pada suatu saat ada tanya di hati ini, karena sudah beberapa bulan dia tidak muncul melaporkan, setidaknya, memberi kabar tentang kemajuan usaha yang dirintisnya. Aku tidak mengharapkan imbalan. Hanya ingin tahu perkembangannya saja. Namun dia tidak pernah menghubungi aku lagi. Apakah aku galau? Tidak! Atau barangkali aku merasa dirugikan? Tidak juga. Apakah aku harus mencarinya? Untuk apa? Aku merasa kebaikanku disalahgunakan? Yups, mungkin ini yang bisa diterima oleh akal sehatku. So, apa yang akan aku lakukan? Mencarinya? Menuntutnya mengembalikan modal yang aku berikan? Percuma saja, seperti menggantang asap. Lho koq, kenapa? Karena menurut kabar burung dia sudah pindah dari wilayah tempat tinggalku dan pindah entah kemana. Ia pergi tanpa kesan dan pesan. Tidak juga mengucapkan selamat tinggal.

Apakah karena aku dikecewakan lalu tertoreh di hati ini: "Untuk Apa Kita Berbuat Kebaikan?"
Well, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain, bukan orang itu yang akan membalasnya, tetapi balasan akan datang dari Allah Swt, dengan cara yang kita tidak akan pernah tahu caranya. Jadi, jangan biarkan niat untuk berbuat kebaikan itu semakin terkubur dalam hati kita. Menolong seseorang yang berada dalam kesulitan adalah sebuah pahala. Biarkan Allah yang menilai dan balasan apa pun yang akan Allah berikan kepada kita hanya Allah yang tahu.. Jadi tetaplah semangat untuk meneliti (kalau perlu) kesulitan orang-orang terdekat, kemudian bantulah, semaksimal yang kita bisa. Tetaplah hindarkan tanya yang akan menebal dalam kalbu -- "Untuk Apa Kita Berbuat Kebaikan?" Segumpal daging dalam dada akan menjadi semakin bersih manakala kita melakukan hal itu, maksudnya menghindarkan tanya seperti itu.
 
Cerita ini aku tuliskan, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat buat pembaca untuk tidak mudah jatuh hati kepada kesulitan seseorang, sekalipun teman yang telah lama kita kenal. Bila ingin membantu, bantulah. Berikan bantuan putus kepadanya, dalam arti, sekali kita bantu dan seterusnya dia yang harus bertanggung-jawab terhadap kelanjutan hidupnya. Hidup adalah sebuah pilihan. Segala resiko kita yang harus mempertanggung-jawabkannya. Berdo'a dan berusaha dulu sebelum berpasrah diri. Selebihnya serahkan kepada Allah Swt karena sejauh mana pun kita berencana dan ingin berbuat baik untuk orang lain, ketentuan ada ditanganNya.

Jangan mengharapkan balasan untuk apa yang telah kita lakukan, tapi tetaplah berbesar hati dan jiwa. Allah akan berpihak kepada umatNya yang berhati tulus dan tidak mengharapkan balasan dari orang yang kita bantu. Pertologan dalam bentuk lain akan menyapa kita, suatu saat. Pasti.

Selamat menerapkan tangan di atas...

3 komentar:

  1. Inspiratif sekali Bunda.
    Setuju sama Bunda. Saya percaya, kebaikan yg kita lakukan itu pasti dibalas oleh Allah, baik melalui orang yg kita tolong atau melalui orang lain bahkan yg ga kita kenal sekalipun. Yg penting, selalu berbuat baik ya Bunda. Trima kasih sudah diingatkan ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Vhoy, alhamdulillah kalau bisa menginspirasi Terima kasih juga kunjungan Vhoy ke blog bunda.

      Hapus
  2. wow bunda.. saya masih harus belajar banyak dari bunda.. terkadang kita berbuat kebaikan karena ada harapan lain selain rasa ikhlas :)

    salut untuk bunda yati..

    BalasHapus